Saturday, September 25, 2010

Wajib taqlid salah satu mazhab yang empat

Dalam kitab Tanwirul Qulub m/s 78 & 79 ada dinyatakan:

"Segolongan ulama mengambil perhatian dalam penulisan Fiqh berdasarkan Kitab dan Sunnah.Yang masyhur di antara mereka ialah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafii dan Ahmad radhiyallahu ahhum.Semua mereka berada dalam petunjuk daripada Allah.Dan taqlid salah seorang daripada mereka adalah fardhu kerana firman Allah dalam surah an-Nahl:43 yang bermaksud:

" maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui".

Dan berdasarkan hadis:

ألا سألوا اذ لم يعلموا

"Hendaklah mereka bertanya apabila tidak tahu"

Dan tidak harus bertaqlid kepada selain mereka kerana telah berlaku ijmak.Ini kerana mazhab2 lain tidak ditulis sebagaimana mazhab yang empat tersebut.

Dan sesiapa yang tidak mahu bertaqlid kepada salah seorang di antara mereka dan mendakwa aku beramal dengan kitab dan sunnah kononnya memahami hukum2 kitab dan sunnah maka dakwaan tersebut tidak diterima bahkan dia salah, sesat lagi menyesatkan lebih2 lagi pada zaman sekarang(pengarang kitab tersebut wafat tahun 1332H) yang mana berleluasanya kefasikan dan banyaknya dakwa2 yang batil."

Thursday, September 23, 2010

[Mengenali Mazhab] Tingkatan Mufti Madzhab As Syafi’i

Oleh : Thoriq

Definisi madzhab adalah apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam berbagai masalah, sebagaimana disebutkan Imam Al Mahalli dalam Syarh beliau terhadap Al Minhaj. (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, 1/7)

Dengan definisi di atas, otomatis madzhab As Syafi’i tidak hanya mencakupi pendapat Imam As Syafi’i saja, namun, juga pendapat para pengikutnya. Nah, siapa para pengikut yang berhak memberi pendapat kepada madzhab? Pendapatnya diperhitungkan sebagai pendapat madzhab? Tentu, itu hanya dapat terjawab dengan pemaparan tingkatan para mufti yang dianggap mu’tabar dalam madzhab.

Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab (1/71), mengenai tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i. Merujuk kepada pendapat Al Hafidz Ibnu Shalah, beliau membahagi mufti dalam madzhab menjadi beberapa kelompok:

1. Mufti Mustaqil

Mufti mustaqil adalah mufti yang berada dalam peringkat tertinggi dalam madzhab, Ibnu Shalah juga menyebutkannya sebagai mujtahid mutlaq. Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab. Tentu dalam Madzhab As Syafi’i, mufti mustaqil adalah Imam As Syafi’i. Imam An Nawawi sendiri menyebutkan pendapat beberapa ulama ushul bahwa tidak ada mujtahid mustaqil setelah masa As Syafi’i. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72)

Keistimewaan mufti mustaqil yang tidak dimiliki oleh tingkatan mufti di bawahnya adalah kemampuannya menciptakan metode yang dianut madzhabnya.

2. Mujtahid Madzhab

Yakni, mufti yang tidak taklid kepada imamnya, baik dalam madzhab (pendapat) atau dalilnya namun tetap menisbatkan kepada imam karena mengikuti metode imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Contoh ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi, sebagaimana disebutkan Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Sedangkan Imam An Nawawi juga menyebutkan bahwa Abu Ishaq As Syairazi yang masa hidupnya jauh dari masa Imam As Syafi’i mengaku sampai pada derajat ini. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Di kalangan muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini, sebagaimana disebutkan Syeikh Ba’alawi. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Mufti golongan inilah yang relevan bagi mereka perkataan Imam As Syafi’i yang melarang taklid, baik kepada beliau maupun kepada para imam lainnya, sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73). (Tambahan Admin : Peliknya zaman ini ada individu yang mengatakan taklid itu dilarang sama sekali untuk semua orang awam, dan terus mengatakan ambil sahaja dari al Quran dan Hadith walaupun tidak berkelayakan bahkan jahil dan tiada disiplin ilmu)

Dan hal itu tidak berlaku kepada ulama yang berada di bawah level ini, sebab itulah Ibnu Shalah sendiri berpendapat bahwa pelarangan taklid dari para imam tidak bersifat mutlak. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72).

Golongan ini pula yang menurut Ibnu Shalah dan Imam An Nawawi yang berhak mengoreksi pendapat Imam, di saat mereka mengetahui ada hadits shahih yang bertantangan dengan pendapat imam. Kenapa harus mereka? Karena bisa jadi imam sengaja meninggalkan hadits walau ia shahih dikarenakan manshukh atau ditakhsis, dan hal ini tidak akan diketahui kecuali yang bersangkutan telah menela’ah semua karya As Syafi’i dan para pengikutnya, dan hal ini amatlah sulit, menurut penilaian ulama sekaliber Imam An Nawawi sekalipun. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/99 dan Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits fa Huwa Madzhabi)

Jika sesorang sampai pada derajat ini, ia bisa menyelisihi pendapat imamnya sendiri, dan hal ini tidaklah jadi persoalan, karena sudah sampai pada derajat mujtahid walau tetap memakai kaidah imam. Tak heran jika beberapa pendapat Imam Al Muzani berbeda dengan pendapat Imam As Syafi’i seperti dalam masalah masa nifas, Imam As Syafi’i berpendapat bahwa maksimal masa nifas 60 hari sedangkan Al Muzani 40 hari. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 2/106)

3. Ashab Al Wujuh

Ashab Al Wujuh, yakni mereka yang taklid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disebutkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para ulama As Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah ashab al wujuh. Yakni mereka yang mengkiyaskan masalah yang belum di-nash oleh imam kepada pendapat imam. Sehingga, orang yang merujuk fatwa mereka pada hakikatnya tidak bertaklid kepada mereka, namun bertaklid kepada imam. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

4. Mujtahid Fatwa

Golongan ini termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Perlu diketahui, dengan adanya mufti-mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk mentarjih.

Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi menyebutkan bahwa yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi yang dikenal sebagai mujtahid fatwa.(lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7)

Hal ini nampak dalam corak karya Ar Rafi’i seperti Al Aziz fi Syarh Al Wajiz, juga karya Imam An Nawawi seperti Raudhah At Thalibin dan Minhaj At Thalibin. Sehingga bagi para penuntut ilmu jika ingin mengetahu perkara yang rajih dalam madzhab bisa merujuk kepada buku-buku tersebut.

5. Mufti Muqallid

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya (tempat rujukan) tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli dan As Subramilsi termasuk kelompok mufti Muqallid, walau sebagian berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal 7)

Jika tidak menemui nuqilan dalam madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kecuali jika mereka memandang bahwa masalahnya sama dengan apa yang nash madzhab, boleh ia mengkiyaskannya. Namun, menurut Imam Al Haramain, kasus demikian jarang ditemui. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

Namun tentunya tidak boleh berfatwa dengan semua pendapat tanpa melihat mana yang rajih menurut madzhab. Syeikh Ba’ alawi menilai orang yang demikian sebagai orang yang bodoh dan menyelisihi ijma. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 9)

Jika demikian, para mufti yang berada di jajaran ini akan banyak berinteraksi dengan karya-karya para mujtahid fatwa, yang telah menjelaskan pendapat rajih dalam madzhab.

Penutup

Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para mufti selain mufti mustaqil, yang telah disebutkan di atas termasuk mufti muntasib, dalam artian tetap menisbatkan diri dalam madzhab. Dan semuanya harus menguasai apa yang dikuasai oleh mufti muqallid. Barang siapa berfatwa sedangkan belum memenuhi syarat di atas, maka ia telah menjerumuskan diri kepada hal yang amat besar! (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Tentu, amat tidak mudah untuk masuk jajaran mufti di atas hatta mufti muqallid jika orang sekaliber Ibnu Hajar Al Haitami dan Imam Ar Ramli masih dinilai berada dalam tingkatan itu! Namun ironisnya banyak anak-anak muda yang baru mencari ilmu dengan tanpa beban menyesat-nyesatkan siapa saja yang bertaklid. Kemudian menyerukan untuk mentarjih pendapat sesuai berdasarkan dalil yang ia pahami seakan-akan ia setingkat dengan Imam An Nawawi, atau bahkan menggugurkan pendapat mujtahid mustaqil dengan berargumen, idza shahah al hadits fahuwa madzhabi, seakan-akan ia satu level dengan Imam Al Muzani! Padahal yang bersangkutan belum menghatamkan dan menguasai kitab fiqih yang paling sederhana sekalipun dalam madzhab.

Mudah-mudahan kita terlindung dari hal-hal yang demikian. Dan tetap bersabar untuk terus mencari ilmu, hingga Allah menentukan sampai dimana ilmu yang mampu kita serap dan kita amalkan.

Rujukan:

1. Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Imam An Nawawi, Dar Al Fikr, th. 1425-1426 H, t. Dr. Mahmud Mathraji.

2. Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, Tajuddin As Subki, Hijr, cet. 2, th. 1413 H, t. Dr. Abdul Fattah Muhammad Al Hulwu, Dr. Muhamud Muhammad At Thanahi.

3. Nihayah Az Zain fi Iryadi Al Mubtadi’in, Nawawi Al Bantani, Al Haramain, cet. 1,th. 1426 H.

4. Bughyah Al Mustaryidin, Ba’alawi, Nur Al Huda.

5. Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits fa Huwa Madzhabi, Taqiyuddin As Subki dalam Majmu’ah Ar Rasail Al Muniriyah, Idarah At Thiba’ah Al Muniriyah, cet. 2, th 1343 H.

6. Syarh Al Mahalli Ala Al Minhaj dalam Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, Al Mahalli, Dar Al Fikr 1420 H.

Sumber : http://almanar.wordpress.com/2010/09/21/tingkatan-mufti-madzhab-as-syafi%E2%80%99i/


Friday, September 17, 2010

Tawassul - Syaikh Dahlan al-Kediri

Ikhwah, Syaikh Dahlan al-Kediri rhm., seorang ulama besar di Jawa, ada membicarakan persoalan ziarah kubur dan bertawassul dengan para wali dalam kitabnya "Sirajuth-Tholibin" yang merupakan syarah bagi kitab "Minhajul 'Abidin" karya Imam al-Ghazali r.a. Beliau membawa perkataan-perkataan berbagai ulama antaranya Quthubul-Habib 'Abdullah al-Haddad r.a. dan Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan rhm. Pada mukasurat 466 - 467 jilid 1 kitab tersebut, antara lain, beliau menulis:-

• Al-Quthub al-Habib 'Abdullah al-Haddad juga berkata bahawasanya para akhyar (orang pilihan) apabila mereka mati tidaklah hilang daripada mereka melainkan 'ain mereka (yakni jasad mereka) dan rupa bentuk mereka, sedangkan hakikat mereka tetap ada (yakni hakikat kehidupan mereka iaitu roh). Maka mereka adalah hidup di dalam kubur-kubur mereka.

• Dan jika demikianlah keadaannya, seseorang wali itu hidup dalam kuburnya, maka sesungguhnya tidak hilang sesuatu daripada ilmunya, akalnya dan kekuatan rohaniahnya, bahkan pandangan batin, ilmu dan kehidupan rohaniah bagi roh-roh mereka bertambah selepas kematian, begitulah juga tawajjuh mereka kepada ALLAH (yakni tumpuan atau penghadapan mereka kepada ALLAH, bahasa mudah fokus mereka kepada ALLAH).

• Apabila bertawajjuh roh-roh mereka kepada ALLAH ta`ala untuk sesuatu, ditunaikan ALLAH s.w.t. dan dilaksanakanNya sebagai kemuliaan buat mereka. Inilah yang dimaksudkan dengan perkataan sebahagian ulama yang bagi para wali itu ada `tasharruf' (yakni `tasharruf' atau `perbuatan' atau 'tindakan' atau 'kuasa' para wali itu adalah tawajjuhnya kepada ALLAH). Maka 'tasharruf haqiqi' yang melibatkan kuasa memberi bekas/kesan (ta`tsir), kuasa mencipta dan mengadakan semata-mata bagi ALLAH tanpa sekutu. Tidak ada bagi wali dan selainnya kuasa ta`tsir dalam sesuatu, sama ada hidup mahu pun mati. (Inilah 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah, yang berkuasa memberi bekas hanya ALLAH, makhluk sama ada hidup mahupun mati tidak berkuasa memberi bekas, oleh itu tidak ada bezanya bertawassul dengan yang hidup atau yang mati. Fahaman yang mengatakan bahawa tawassul hanya boleh dengan yang hidup, tidak yang mati, maka dalam fahaman ini seolah-olah yang hidup boleh memberi bekas berbanding yang mati. Fahaman ini adalah logika yang mengandungi syirik yang halus.) Sesiapa yang percaya bahawa wali atau selainnya mempunyai ta`tsir dalam sesuatu perkara atau urusan, maka dia telah kafir dengan ALLAH ta`ala.

• Maka ahli barzakh daripada kalangan wali berada di hadhrat ALLAH ta`ala. Sesiapa yang bertawajjuh kepada mereka dan bertawassul dengan mereka, maka mereka bertawajjuh kepada ALLAH ta`ala pada menghasilkan kehendaknya. 'Tasharruf' yang terhasil daripada mereka adalah tawajjuh mereka dengan roh-roh mereka kepada ALLAH ta`ala, sedangkan 'tasharruf haqiqi' adalah bagi ALLAH semata-mata. Apa yang jatuh berlaku daripada mereka termasuk dalam jumlah asbab biasa yang tidak mempunyai ta`tsir, maka wujud sesuatu itu di sisi mereka bukan dengan (kuasa) mereka, menurut apa yang dilaksanakan ALLAH daripada segala kebiasaan. (Yakni yang mewujudkan adalah ALLAH semata-mata, inilah yang dimaksudkan dengan perkataan "wujud di sisi mereka bukan dengan mereka").

• Jangan engkau tertipu dengan segala syubuhat (kekeliruan) pegangan Wahhabi yang menegah tawassul dan ziarah kerana hujjahnya (yakni hujjah puak Wahhabi) adalah batil.

Inilah antara tulisan Syaikh Dahlan al-Kediri. Perlu diberi perhatian bahawa apa yang dinyatakan oleh beliau adalah bersumber kepada ulama-ulama lain dan merupakan pandangan jumhur Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Yang menegah tawassul dan ziarah kubur awliya` adalah puak Wahhabi penderhaka. Kita tak kisah kalau orang nak bertawassul atau tidak. Untuk menghasilkan sesuatu hajat, kita disuruh mencari sebab, walaupun ALLAH berkuasa mengabulkannya tanpa sebab dan kadang-kadang berlaku tanpa sebab, berusaha satu sebab, berdoa satu sebab, bertawassul satu sebab yang lain. Insya-ALLAH, dengan banyaknya asbab mudah-mudahan terkabullah segala hajat dengan syarat segala asbab tidak menyalahi hukum syarak yang mulia. Jika dihukumkan tawassul itu haram dan sesat, maka ramailah yang akan masuk neraka termasuklah ulama-ulama yang mu'tabar.

Thursday, September 16, 2010

Dr al-Buthi:Tawassul dan lain2 yang diingkari Wahabi

Berkata Dr Muhd Said Ramadhan al-Buthi dalam muqaddimah cetakan kedua kitab Fiqh Sirah:

Telah aku dapati dalam petunjuk Rasulullah SAW dan amalan para sahabat yang menjelaskan tanpa ragu2 lagi disyariatkan tawassul dengan Rasulullah SAW sama ada sewaktu baginda masih hidup mahupun setelah wafat.Maka aku tetapkan perkara demikian dan aku bentangkan dalil2 dan bukti2.

Dan aku dapati dalam sirah disyariatkan berdiri bagi memuliakan orang yang datang.Maka aku sebutkan dalilnya dan aku jelaskan apa yang disebut oleh ulama antara beza berdiri memuliakan tetamu yang baru datang dan berdiri kepada lelaki yang duduk dan apa yang diterangkan oleh sunnah dalam perkara tersebut.Kemudian aku tetapkan disyariatkan berdiri tersebut sekiranya menepati syarat2 yang diterangkan sunnah sohihah dan kaedah2 usul dan hukum2.

Dan aku dapati juga dalam sirah disyariatkan mungqadha solat sama ada tertingga kerana terlupa ataupun sengaja.Aku bawakan dalilnya dan aku menetapkan berdasarkan dalil.

Jikalau sekiranya aku dapati dalil2 yang menghukum selain daripada yang aku pegangi, sudah tentu aku akn sebutnya dan aku akan mengikuti apa yang terkandung dalam dalil tersebut.Tetapi aku tidak mampu dengan apa keadaan sekalipun untuk menutup mataku dan bertaqlid kepada segolongan manusia hari ini yang berpegang dengan menyalahi imam2 dan jumhur ulama sebagai mazhab yang baru.Hingga ada yang mencela ulama.Bahkan ada yang melaknat mereka.

Kami berlindung kepada Allah daripada bertukarnya perbahasan ilmiah kami menjadi asobiyah berlandaskan nafsu sebegini.

Aku suka demi Allah sekiranya golongan ini yang menyibukkan pemikiran manusia dan waktu mereka dengan pandangan2 dan ijtihad2 dalam perkara furu’ berpindah kepada perkara2 dan masalah2 lain yang lebih besar dan penting yang memerlukan kepada curahan pemikiran dan usaha yang besar dan bersungguh2 untuk menyelamatkan orang Islam daripada penyakit tersebut(seperti masalah murtad dan gejala sosial-penterjemah).Tetapi apa yang berlaku hairannya mereka tetap bebal dan berpura-pura jahil terhadap perkara dan masalah baru pada setiap zaman.Perbicaraan mereka untuk memuaskan nafsu supaya menimbulkan di kalangan manusia masalah2 yang bukan baharu tetapi telah berlaku khilaf sejak dahulu.Dan tidak ada faedah yang diharapkan daripada perbalahan masalah2 tersebut melainkan membangkitkan dendam dalam jiwa.

Lebih elok sekiranya golongan ini sekiranya mereka ikhlas kerana Allah supaya berpegang dengan pendapat yang diyakininya.Kemudian mereka membiarkan golongan lain berpegang apa yang mereka yakini daripada pandangan mazhab dan pendapat Imam2 lain.Berhentilah daripada berterusan mencuba memaksa manusia dengan berdebat dan mencela.Sesungguhnya jumhur muslimin sebelum ini bersepakat untuk berpegang dengan perkara2 qat’i dalam iktiqad dan amalan.Mereka bantu-membantu mengambil berat perkara qat’i.Apabila mereka berbicara dalam perkara ijtihad zonniyat mereka tidak kisah untuk berbeza pendapat dalam banyak perkara hingga timbul pelbagai mazhab tanpa ada suatu pihak memaksa menerima pendapatnya dan meninggalkan pendapat yang lain.

Wednesday, September 15, 2010

Hakikat Tauhid

قال أبو عثمان المغربي لمحمد بن المحبوب يوما:يا محمد لو قال لك أحد أين معبودك ايش تقول؟قال قلت:أقول حيث لم يزل قال فان قال أين كان في الأزل ايش تقول؟قال قلت أقول حيث هو الآن يعني أنه كما كان ولا مكان فهو الآن كما كان قال فارتضى مني ذلك ونزع قميصه وأعطانيه.

Berkata Abu Usman al-Maghribi kepada Muhammad b al-Mahbub suatu hari: Wahai Muhammad, jika bertanya seseorang kepadamu dimanakah Tuhan yang engkau sembah apa jawabmu?Muhammad menjawab Aku akan berkata Di mana tidak ada permulaan(azali).Kata Abu Usman lagi:Sekiranya ditanya Di mana dan bagaimana azali itu apa engkau jawab.Jawab Muhammad:Dia(Allah) sekarang sebagaimana sejak azali tidak bertempat dan masa begitu juga sekarang(yakni tidak perlu ditanya dimana Allah kerana Dia tidak mempunyai tempat dan zaman kerana Dia pencipta kepada setiap tempat dan masa). Kata Muhammad lagi:Maka Abu Usman redha dengan aku menjawab sedemikian dan mencabut qamisnya dan member kepada aku.

Tuesday, September 14, 2010

Sangkaan kepada Allah yang membawa kepada syirik

قال جعفر الصادق :من زعم أن الله في شيء أو من شيء أو على شيء فقد أشرك اذ لو كان علي شيء لكان محمولا ولو كان في شيء لكان محصورا ولو كان من شيء لكان محدثا

Berkata Imam Jaafar as-Sodiq: “Barangsiapa yang menyangka bahawa Allah di dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau di atas sesuatu maka ia telah syirik.Ini kerana jikalau Allah berada di atas sesuatu sudah tentu Dia ditangguh oleh sesuatu.Jika sekiranya Allah di dalam sesuatu tentu Dia terbatas(terhad). Jika Allah daripada sesuatu sudah tentu Dia baharu.